My Blog

Turun dari Gunung Everest dengan Paralayang

Gunung Everest

Jakarta – Ahhh… segar sekali. Pendaki gunung ini membuat pendakian Gunung Everest lebih mudah karena ia turun dengan paraglider.

CNN melaporkan dia adalah Pierre Carter, seorang pendaki gunung dari Afrika Selatan. Pada Mei 2022, sejarah di buat ketika ia menjadi orang pertama yang di berikan izin oleh pemerintah Nepal untuk paralayang menuruni Gunung Everest.

Perjalanan Carter ke Everest sangat panjang. Dia adalah pemanjat tangguh, rela menunggu sampai paralayang menjadi lebih murah dan lebih mudah.

Penduduk asli Johannesburg berusia 55 tahun itu tidak memiliki sponsor.

Pekerjaan kontraknya memberinya dana untuk mendukung kebiasaan mendaki dan paralayangnya.

Ketika dia serius ingin mendaki Gunung Everest, Carter memutuskan untuk bekerja sama dengan Asian Trekking, seorang pemimpin yang telah beroperasi di gunung selama 40 tahun.

CEO-nya, Dawa Steven Sherpa, berasal dari Nepal dan merupakan penggemar paralayang, tetapi dia mengatakan kepada Carter bahwa mendapatkan izin untuk meluncur dari puncak tertinggi di dunia tidak akan pernah terjadi.

Namun, saat Carter mempersiapkan perjalanan musim semi 2022 ke Nepal, dia yakin tidak ada salahnya terus mencoba.

“Sesuatu terjadi dalam politik. Saya tidak tahu persis apa. Tapi seorang menteri telah berubah. Dan Dawa tiba-tiba menulis kepada saya: ‘Saya pikir kita akan mendapatkan paspor. Ada menteri baru,’” kenang Carter.

Persetujuan itu datang tepat pada waktunya. Carter sudah berada di Nepal saat di konfirmasi.

Persyaratan izin menyatakan bahwa ia tidak di izinkan lepas landas dari puncak Everest.

Dokumen tersebut menyatakan bahwa Carter terbang dari ketinggian tidak lebih dari 8.000 meter di atas permukaan laut, sehingga ia memilih lepas landas dari Cologne Selatan.

Carter awalnya berencana untuk mendaki Everest, kemudian kembali ke South Col dan lepas landas dari sana.

Namun, dia terjangkit penyakit ketinggian di kamp dua dan di tahan di sana selama beberapa hari.

Seiring waktu, ia harus memilih antara pergi ke puncak dunia atau paralayang di bawahnya.

Seperti kata Carter, benar-benar tidak ada pilihan. Dan akhirnya, kondisi cuacanya sempurna.

“Ketika Anda terbang di ketinggian ini, bukan cuaca di mana Anda berada. Ini adalah cuaca di tengah gunung dan cuaca yang akan Anda gunakan untuk mendarat,” jelas Carter.

Dia meninggalkan Kol Selatan pada pukul 12 malam. waktu setempat pada 15 Mei dengan kamera 360 derajat di belakangnya.

Ayo simak juga ulasan berikut ini : Perubahan Lingkungan, semoga bermanfaat artikel kali ini!

Exit mobile version